Minggu, 23 September 2012

Sahabat sejati bukan memberi pada saat orang meminta


ia memberi tanpa kata-kata, tanpa menepuk dada.”
Sabtu pagi. “Amru … dipanggil kepala sekolah!” lagi-lagi namaku dipanggil. Aku sudah tahu apa yang akan disampaikan Kepala Sekolah. Bulan lalu Bu Isti wali kelasku memanggil menyampaikan salam untuk orang tuaku untuk segera membayar biaya SPP-ku yang sudah nunggak hampir 6 bulan. Sebulan sebelumnya bahkan bagian Tata Usaha sudah berkali-kali memanggilku hingga semua teman-teman tahu setiap kali aku dipanggil pasti urusannya dengan soal bayaran sekolah.
Sejak orangtuaku bercerai dan aku memutuskan untuk ikut ibu setahun yang lalu, kondisi ekonomi keluargaku memang semakin terdesak. Terlebih sejak ayah menyetop kiriman uang yang seharusnya menjadi kewajibannya 6 bulan lalu. Ibu yang hanya lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama) menggunakan kemampuannya mengetuk satu persatu pintu orang-orang berada dan menawarkan jasanya untuk mengajar ngaji anak-anak mereka. Akibat kebutuhan yang mendesak itulah, ibu selalu kehabisan uang untuk biaya sekolahku, juga adik-adikku.
Ada Wicaksono, kami memanggilnya Sony, di kelas ia selalu menjadi biang keributan, sering membuat onar dan tidak jarang berbuat usil terutama kepada perempuan. Hampir semua anak dikelas tak menyukainya, selain ia juga sombong.
Ia sangat suka pamer jika mempunyai barang-barang bagus yang baru dibelikan orangtuanya, seperti sepatu dan tas. Dilihat dari merk-nya sih, jelas tidak murah, bagus pula modelnya. Aku tak pernah iri kepadanya, hanya saja yang membuat aku membencinya lebih karena ocehannya setiap petugas tata usaha memanggilku. “Pinter-pinter nunggak…” atau sindiran lainnya.
Sore menjelang Ashar, dengan langkah gontai aku memasuki teras rumah. Kulihat ibu sedang menyapu lantai. Sejak dalam perjalanan pulang sudah kuputuskan untuk tidak menyampaikan surat panggilan kepala sekolah agar tidak menjadi beban pikiran Ibu. Lagi pula mulai besok sampai minggu depan sekolah libur.
Satu minggu sesudah jadwal masuk aku masih belum mau ke sekolah. Aku ‘membohongi’ ibu dengan mengatakan bahwa libur sekolah diperpanjang. Hingga akhirnya Fauzan, seorang temanku datang dan mengajakku ke sekolah. Ada yang lain di sekolah, petugas TU yang biasanya tak pernah senyum kepadaku, hari ini begitu ramah. Di kelas, tak ada yang berubah kecuali Sony, teman- teman bilang ia telah berubah setelah mengikuti pesantren kilat selama liburan yang lalu. Tak ada lagi kesombongan dan sifat usilnya.
Itu dua belas tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku SMA kelas 2. Kini aku tak pernah bertemu lagi dengan mereka, orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Yang kutahu cuma satu, Fauzan, teman sekolahku dulu kini menjadi salah satu staf dalam perusahaan yang aku dipercaya menjadi General Managernya. Satu bulan lalu saat acara syukuran dikantor atas dipercayanya aku menjadi GM, Fauzan membisikkan sesuatu yang membuatku menitikkan airmata. “Masih ingat Sony? Dia menjual tas dan sepatu barunya untuk melunasi tunggakan biaya sekolah kamu dulu”
Sahabat sejati bukan memberi pada saat orang meminta, ia mempunyai mata pandang yang mampu menembus relung kebisuan sahabatnya. Ia memberi tanpa kata-kata, tanpa menepuk dada.

Cerita Nyata – Hadiah Cinta yg tak ternilai (True Love Story)


“Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayiyang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. download
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan padanya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorangyang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapayang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.” Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah… bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. “Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekalibisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.
Betapa kesehatan sangat berharga. Karena dengan sehat, kita bisa beribadah, kita bisa bersosialisasi, kita bisa menjalankan aktifitas, kita bisa menjalankan hobbi dan kita bisa bekerja.. jauh lebih baik ketimbang jika kita sedang sakit

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia erus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.”Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku enyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku
pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.”Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23, Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan istrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, membawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Hotel Terbaik di Dunia


Menurut Anda, Hotel apakah yang terbaik di dunia? Mungkin Anda akan menyebut jaringan hotel-hotel berbintang terkenal seperti Four Season, Hilton, Hyatt, atau mungkin hotel termahal di dunia yaitu Emirates Palace di Abu Dhabi. Mungkin tidak salah, tapi jika yang Anda cari bukan hanya interior kamar mewah berlapis emas bak kamar Raja, melainkan juga view-view indah disertai pengalaman tak terlupakan menjelajahi fasilitas-fasilitas alamnya, mungkin inilah yang terbaik.







Hotel Salto Chico menjadi salah satu yang terbaik karena lokasinya yang menakjubkan. Lokasinya tidak sulit dicapai melalui penerbangan dari Santiago ke Punta Arenos, Chili. Anda akan langsung disambut bak raja dan dijemput begitu tiba di airport. Setelah Anda menjejakkan kaki di dalam hotel, Anda akan disuguhi interior yang indah dan fasilitas-fasilitas akomodasi lainnya yang ditawarkan hotel ini. Tapi yang menjadikan hotel ini begitu istimewa sesungguhnya adalah alam sekitarnya yang menawarkan pemandangan indah, adventure sports, dan eksplorasi lainnya yang menakjubkan.



Fasilitas

Hotel Salto Chico menawarkan fasilitas terbaik yang mungkin tak akan terlupakan. Di sini terdapat 50 kamar eksklusif, termasuk 7 di antaranya dengan view ke arah air terjun Salto Chico, 6 suite, dan 37 ruang Cordillera Paine yang memiliki pemandangan ke Macizo del Paine di sebelahnya. Anda juga akan mendapatkan santapan-santapan lezat, makan malam, fasilitas laundry, komunikasi, dan bar di tiap kamarnya.



Jika Anda melangkah keluar hotel dan bermaksud menjelajahi keindahan alam di Patagonia, Anda mesti melakukan persiapan-persiapan terlebih dahulu. Seperti untuk menikmati hiking, trekking, atau bermain ski di sini jelas membutuhkan persediaan pakaian hangat dan tebal. Aksesoris-akksesoris seperti thermal underwear set, water-repellent windcheater, sarung tangan, goggles dan sepatu gunung wajib dibawa. Anda tidak harus membawanya dari rumah, karena semuanya bisa dibeli di toko lokal.



Anda bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan saat mengikuti acara eksplorasi yang diadakan oleh Hotel Salto Chico. The Lago Grey peninsula Walk adalah salah satu lokasi indah yang bisa memakan waktu setengah hari untuk menikmatinya. Jembatan gantung The Rio Pingo adalah yang paling menarik selain pemandangan dari Glacier Grey, gunung es, dan hutan lenga. Sementara Alturas Del Toro Walk adalah lokasi yang sempurna untuk acara full-day picnic. Anda bisa lihat indahnya alam di Rio Paine dan Valle Río Serrano.




Kegiatan outdoor menarik lainnya adalah tradisi barbeque di Quincho dan jalan-jalan di seputar Laguna Azul. Acara ini memakan waktu seharian penuh dan di sini Anda bisa menikmati kambing guling sambil menikmati denyut kehidupan liar seperti serigala, angsa, burung kondor, dan lainnya. Menaiki kapal boat menyeberangi Glacier Grey juga merupakan kesenangan tersendiri sambil menikmati ngarai-ngarai, sungai, dan hutan dari berbagai sudut.


Dalam perjalanan yang panjang Anda bisa beristirahat sejenak di the Mirador del Toro Walk. Di sini Anda akan menemukan pemandangan indah dari the Conaf Park. Gunung-gunung Cerro Ferrier dan Cerro Donoso yang menjulang di Lago Toro dan Rio Serrano turut menciptakan scene yang indah. Ingin lebih, Anda bisa mengikuti archaeological walk dari Guarderia Sarmiento menuju Guarderia Laguna Amarga. Di sini Anda bisa menikmati pemandangan gunung-gunung karang dari jaman kuno dipadu dengan view landscape yang fantastis.



Untuk yang menyukai menunggang kuda ada banyak lokasi di sini yang bisa dijelajahi seperti di dekat hutan di Río de las Chinas dan lokasi-lokasi lainnya seperti Estancia de Enero yang cocok untuk menghabiskan waktu sambil memacu kuda tunggangan. Di beberapa lokasi ini mungkin Anda masih bisa menemukan burung-burung kondor dan juga mendengar teriakan-teriakan elang.



Terakhir, jika ingin sesuatu yang unik dari alam di Hotel Salto Chico, Anda tidak boleh melewatkan Taman Nasional Torres del Paine. Disinilah akan dijumpai paduan sempurna berbagai macam flora, landscape yang indah, ditambah spesies-spesies wild-life. Masuk sebagai Kawasan Warisan Dunia tahun 1978 oleh UNESCO, taman nasional yang berlokasi di Patagonia tengah ini membentang hingga seluas 242.242 hektar. Di sini lengkap, Anda akan menemukan danau-danau, sungai, glaciers, dan air terjun untu Anda jelajahi. Jangan lupa juga untuk mampir ke desa El Calafate dan Perito Moreno di kawasan ini untuk melengkapi kunjungan Anda di Hotel Salto Chico.





Mungkin Anda memikirkan waktu dan terutama biaya untuk menikmati semua ini. Tapi bersama kekasih Anda tercinta, kenapa tidak?

Ibu, Izinkan Aku Berjilbab

“Hidup di dunia tanpa uang nggak bakal bisa hidup! Zaman sudah semakin maju, kalau kamu tak mencari uang, dunia akan memakan hidupmu! Untuk apa kamu beribadah terus kalau kamu nggak cari uang! Nggak usah mikir halal apa nggak, yang penting kita bisa hidup dengan uang!” garang seorang wanita berparuh baya pada anak yang begitu teduh wajahnya. Setiap hari, setiap kali ia membasuh wajahnya untuk pergi menghadap-Nya, setiap itulah ia harus mendengar amarah seorang wanita yang selalu menyuruhnya mencari uang, uang, dan uang. Tidak peduli halal dan haram. Yang terpenting dalam kamus wanita itu “Hidup itu uang.” Ia hanya terdiam membisu dan tunduk setiap kali ia mendesir dalam hatinya, “Mengapa Ibu selalu menjadikan hidup itu uang?” Ya, rupanya, wanita itu ialah ibunya. Pernah suatu ketika dengan lemah lembut dan isak suara yang terbata, ia bertanya pada Ibu mengenai itu. Namun apa yang terjadi? Ibu hanya mencerca dan mengusirnya. Ia tak dapat melawan. Bagaimanapun juga wanita itu adalah Ibunya yang wajib dihormati, yang memberi nama dan merawatnya hingga kini. Dalam akta kelahirannya tertera nama, Muliana Dea Safitri. Jika dipikir-pikir nama itu tidak biasa, penuh dengan makna islami. Namun apa nyatanya? Mereka hanya menggantungkan pada uang yang membutakan mereka. Terlebih Ibu. Tetapi tidak untuk Dea. Mereka hidup dengan banyak kekurangan dan hanya tinggal berdua setelah kematian Bapaknya yang sangat tragis pada 14 tahun lalu, saat Dea masih duduk di kelas 3 SD. Masa yang berbeda dari anak lainnya. Ketika yang lain terisi dengan warna warni dunia sekolah, Dea justru membanting tulang untuk ibu dan dirinya, meski hanya sebagai loper koran. Sedangkan Ibu menjadi salah satu pegawai salon kecantikan, yang setiap saat berkutat dengan alat-alat make up. Bahkan semenjak Bapak meninggal, Ibu melepas jilbabnya dan tidak pernah lupa memakai make up setiap akan bekerja. Terlebih lipstick dan blass on yang selalu ia bawa ke mana-mana. Katanya, agar terlihat awet muda. Pagi datang. Itu pertanda Dea harus memulai aktivitasnya. Ia raih jilbab kusutnya sedari SD, pemberian Bapak sebelum meninggal. Untung masih layak pakai, tetapi bagi dirinya, bagus atau tidaknya itu tidak penting. Yang terpenting dengan jilbabnya itu ia merasa benar-benar menjadi seorang wanita. Seperti kata Utadzah yang pernah ia dengar bahwa jilbab ialah identitas wanita yang harus dijaga. Baginya jilbab itu membuatnya nyaman dan terhindar dari jelalat mata lelaki yang tak bertanggungjawab. Pukul 07.00 saatnya ia bekerja. Menerjang teriknya mentari dengan sepeda bututnya yang selalu menemani, demi terkumpulnya uang untuk sesuap nasi. Meskipun puasa, tetapi bukanlah halangan untuknya untuk terus bekerja. “Dea, kali ini ada 80 koran yang saya kasih ke kamu. Bila kamu dapat menjual koran-koran itu lebih dari target seperti biasanya, saya akan kasih bonus untuk kamu. Dan lagi, ada 40 koran yang harus kamu antarkan ke rumah warga. Ini alamatnya,” kata Kepala Redaktur sembari memberikan koran dan daftar alamat warga. “Gerangan apa Bapak baik pada saya hari ini? Sungguh, terima kasih banyak Pak. Saya akan berusaha untuk menjualnya lebih dari target biasanya,” antusias Dea. “Apakah setiap kebaikan harus ada alasannya? Lakukan saja! Agar kamu dapat mengganti jilbab kusutmu itu. Saya jemu melihatnya!” ucap Bapak Saleh itu. “Oh iya ya. Yah, Bapak, ini kan satu-satunya sepeninggalan almarhum Bapak saya. Sayang kan kalau diganti.” “Tetapi bukan berarti kamu memakai itu terus. Kan bisa kamu simpan. Saya kan juga bosan! Apalagi di Bulan Suci Ramadhan ini, kasihan pembeli koran nanti, tak jadi membeli hanya kerena melihatmu begitu kumal. Sayang juga kan!” “Rupanya diam-diam Bapak memperhatikan saya ya. Baiklah, terima kasih Pak. Saya berangkat dulu,” senyum simpul ia utaskan, tak tersinggung sama sekali dengan perkataan beliau. Dalam hati ia berkata bahwa ia harus berusaha mendapatkan bonus itu, sekalipun lapar dan dahaga kian terasa. Ia parkirkan sepeda di pinggir jalan. Seperti biasa ia berkeliling dan menetap dari satu tempat ke tempat lainnya. “Koran, koran, koran, koran, koran, korannya Pak, Bu, Mas, Mbak. Cuma seribu rupiah. Dari berita Nasional sampai Internasional pun ada. Cuma seribu rupiah lho,” semangat Dea. Tanpa takut serak ia terus berteriak ke sana ke mari di persimpangan jalan. Dan tiba-tiba ada seorang pemuda gagah memanggil Dea di balik kaca jendela mobilnya yang sedikit terbuka. “Dek, korannya 4 ya,” ucap pemuda itu. “Oh iya Mas, tunggu. Nah ini, jadi empat ribu rupiah ya Mas.” “Kamu nggak sekolah?” “Saya harus bekerja mencari uang.” “Mencari uang? Anak semuda kamu sudah mencari uang?” heran pemuda itu mengeryitkan dahinya. Pemuda itu memandang lekat-lekat ujung kepala hingga ujung kaki Dea. “Memang tidak boleh, Mas? Mengapa Mas memandang saya begitu?” heran Dea. “Ya, terserah kamu. Oh, tidak-tidak, hanya melihatmu saja. Sebenarnya kauini memiliki paras yang cantik, tetapi penampilanmu saja yang terlihat kumal. Hm, sepertinya kaupantas jadi media saya. Ini ambil kartu nama saya. Hidupmu akan jauh lebih baik dari sekarang bila kau datang ke alamat itu dan mau bekerja untuk saya,” sambil menyodorkan kartu namanya. “Media? Media apa? Terima kasih, Mas.” “Kauakan tahu sendiri bila kaudatang,” menutup jendelanya dan pergi meninggalkan Dea. Dalam kartu nama itu tertera nama Broto Subayaningrat. Pemilik Studio Foto Model. “Studio Foto Model? Untuk apa aku datang ke sana? Sampai Mas-mas tadi bilang aku cantik dan pantas jadi medianya? Jangan-jangan…….,” gumamnya dalam hati dan terpotong ketika pembeli memanggilnya. “Mbak, Mbakk, Mbakkk,” panggil Ibu muda pada Dea sambil menepuk bahunya. “Eh iya Bu, maaf saya tadi melamun.” “Bukannya kerja malah melamun saja. Bagaimana mau dapat pelanggan banyak, kalau penjualnya suka melamun! Bagaimana si Mbak! Meski puasa, semangat dong Mbak! Saya mau beli korannya 2 Mbak.” “Iya-iya Bu, maafkan saya. Terima kasih sudah diingatkan, Bu. Ini Bu, jadi dua ribu rupiah ya.” Pergi menyusuri satu tempat ke tempat lainnya. Menggayuh dan terus menggayuh pedal sepedanya. Tak peduli terik matahari semakin menyengat. Untung ia berjilbab dan berlengan panjang. Setidaknya mengurangi panas yang kian menyengat. Hingga sore hari akhirnya ia mampu menjual korannya sampai 70 koran, yang biasanya ia hanya dapat menjual 50 koran. Hari ini memang sedang menjadi harinya. Ramadhan memang penuh berkah. Sesampainya di rumah, Ibu sudah menunggunya di depan pintu. Tanpa basa-basi Ibu berkata, “Ibu mau berbicara denganmu. Cepatlah masuk!” “Baik Bu.” “Besok kamu ijin 1 hari pada Bosmu. 1 hari itu akan menjadi hari yang sangat berharga untuk kita. Untuk mengubah keterpurukan kita selama ini.” “Tapi Bu, tidak memungkinkan aku untuk ijin. Beliau pasti akan marah.” “Sudahlah! Kamu nurut saja apa kata Ibu. Kalau perlu keluar saja sekalian. Apa kamu mau jadi loper koran seumur hidup? Keluar keringat, lelah, panas, dan belum tentu dapat uang banyak. Jangan membantah!” Dea hanya tertunduk lesu. Memikirkan bagaimana ia harus berbicara esok hari pada Bosnya yang galak tetapi baik itu. Esok harinya. “Pak, ada yang mau saya bicarakan dengan Bapak.” “Apa? Katakan saja.” Dengan sedikit gemetar ia berkata, “Saya mau ijin hari ini ada kepentingan dengan Ibu. Saya mohon maaf sekali, saya tidak bisa bekerja hari ini. Boleh, Pak?” “Oh, boleh. Kamu belum pernah ijin selama kamu bekerja. Dan saya rasa kamu adalah salah satu pekerja yang rajin. Pergilah,” ramah Bapak Saleh mengijinkan. “Sungguh, Pak? Bapak tidak marah? Wah, terima kasih banyak. Saya pergi dulu. Sekali lagi terima kasih, Pak Saleh,” pergi meninggalkan tempat redaksi dan pulang ke rumah. Setiba di rumah. “Masuk ke kamar Ibu sekarang! Cepat, waktu semakin berjalan! Jangan sampai semua gagal!” perintah Ibu. “Iya Bu, sebenarnya Dea mau diapakan, Bu?” “Masuk saja! Pakai kain ini untuk menutup matamu!” Dalam pikirnya, mungkin Ibu mau memberikan kejutan padanya yang tak pernah ia dapatkan lagi setelah Bapak pergi meninggalkan mereka. Di dalam kamar Ibu. Semua perlengkapan make up, Ibu keluarkan. Termasuk pakaian cantik yang Ibu pilihkan untuk Dea. Pakaian yang memperlihatkan lekak lekuk tubuhnya, mengumbar aura yang memanah mata lelaki. Tidak peduli Ramadhan atau bukan, yang terpenting Ibu harus melakukan misinya. Semua siap di atas kasur Ibu. Dan saatnya Ibu memoles wajah Dea. Setelah 15 menit lamanya, sungguh takkan ada yang berkedip sedikitpun jika melihatnya. Cantik jelita. “Buka penutup matamu!” perintah Ibu lagi. “Ibu, mau ke mana kita berdandan seperti ini? Dea nggak suka dengan pakaian begini. Mana jilbab Dea Ibu? Dea mau pakai! Dea nggak mau pakai baju seperti ini! Nggak mau!” kesal Dea. Begitu kaget Dea melihat dirinya sendiri. Marah dan kecewa pada Ibu. “DIAM! Ikuti saja mau Ibu. Buat apa jilbabmu? Sudah kusut, kumal, tidak layak pula! Lihatlah, kamu lebih cantik berdandan seperti ini anakku. Jilbabmu hanya akan menutupi kecantikanmu saja. Manfaatkan kecantikanmu! Ayo kita pergi!” menarik tangan Dea. “Ibuuuuu, Dea nggak mau keluar! Dea malu. Dea malu. Dea malu Ibu! Apa kata orang-orang di luar sana yang sedang berpuasa bila Dea berpakaian seperti ini Bu kasihan lelaki yang melihat Dea. Sama saja Dea yang memancing mereka untuk melihat aurat Dea. Dea tidak rela Bu!” keluarlah air matanya yang tak tertahan di pelupuk mata. “Cantik-cantik begini kok malu. Puasa-puasa! Yang puasa itu mereka ya biarkan. Nggak usah pikirin orang lain. Kalau orang itu tidak mata keranjang, mereka tidak akan melihatmu. Tergantung merekanya saja! Apa kamu puasa? Nggak kan? Untuk apa puasa kalau hati kita belum bener! Jangan menangis! Make upmu bisa luntur! Sudahlah, jangan membuat telinga Ibu sakit karena suaramu!” Ibu memang tidak berpuasa. Bagi Ibu puasa tidak menguntungkan. Hanya menahan lapar dan dahaga saja. Namun tidak untuk Dea, diam-diam ia berpuasa. Meski ia harus menahan lapar dan dahaganya tanpa sahur. Mengingatkan Ibuuntuk berpuasa pun percuma. Pasrah. Dengan langkah gontai dan tertunduk dalam, Dea berjalan dengan Ibu. “Angkat wajahmu! Jangan menunduk. Kamu ini cantik. Percayalah sama Ibu. Pakaianmu juga biasa saja. Tidak terbuka sekali! Angkat dong sayang,” sambil mengangkat dagu Dea agar paras cantiknya bisa terlihat. Langsung semua mata munuju padanya. Tidak lain, lelaki yang berhidung belang. Kecewalah sudah Dea pada dirinya sendiri. Gugurlah sudah puasanya di hari itu. Malu berat. Tak dapat bekutik sedikitpun. Setiba di Studio Foto Model. “Selamat Pagi Pak Broto. Seperti janji saya, saya akan membawa anak saya ke hadapan Bapak. Bagaimana? Cantik bukan? Sudah, Bapak tidak perlu banyak pertimbangan lagi. Cepat saja jadikan ia sebagai model percobaan desain gaun Bapak, sebelum ia diambil oleh studio lain lho,” rayu Ibu. Terheran-heran Pak Broto pada Dea, “Lho, kaukan loper koran yang berjilbab kusut itu kan? Yang kemarin saya kasih kartu nama saya. Iya kan? Apa saya bilang, kauini cantik jelita. Takkan rugi menjadi model saya. Tenang, kauakan diajarkan bergaya oleh pihak sini.” Dea hanya tertunduk malu dan lemas. Pasrah. “Wah, rupanya Bapak sudah mengenal anak saya. Baguslah. Dunia memang sempit! Jadi Bapak setuju kan?” “Ya jelas saya setuju dong! Tinggal anak Ibu saja yang mau menurut dengan kami.” “Oh tenang Pak, semuanya bisa diatur. Anak saya jelas mau. Iya kan sayang?” lirik Ibu pada Dea. “I, I, I, ya Bu,” terbata ia menjawab. “Kan Pak, sudah saya bilang. Pasti anak saya mau,” yakin Ibu. “Baiklah, kalau begitu Ibu tanda tangan di sini. Sebagai tanda kontrak kerja kita. Ini ada sedikit uang untuk membeli baju-baju untuk datang ke sini esok hari. Tidak mungkin anak Ibu datang ke sini mengenakan pakaian seperti itu. Saya tahu pasti kalian membutuhkan uang ini,” menyodorkan segenggam uang. “Ah, Bapak tahu saja. Baik Pak. Terima kasih.” Semua berhasil, dalam perjanjian itu Dea akan mendapat honor satu juta sekali foto. Di mana ia harus 5 kali foto setiap 1 minggu sekali. Berarti dalam seminggu Dea akan memperoleh uang sebanyak 5 juta. Waw, itu sama saja uang yang dikumpulkan oleh Dea dari pekerjaannya selama 3 tahun. Esok pagi Dea harus sudah menjalani masa kontraknya itu. Bekerja menjadi seorang model foto percobaan desain gaun Pak Broto yang masih muda itu. “Gitu dong! Itu baru anak Ibu. Di sana jangan macam-macam ya! Kamu harus menurut dengan perkataan pihak sana. Ibu yakin, kamu bisa melakukannya. Tersenyumlah, kamu memang cantik seperti Ibu.” “Iya Bu,” jawabnya lemah. Ketika ia sampai di musholla kesehariannya, ia langsung menuju kamar mandi. Ia mengeluarkan jilbab barunya yang ia beli dari bonus yang dikasih oleh Pak Saleh. Rupanya ia berganti pakaian seperti biasanya. Dan ternyata, ia tidak menuju studio foto di mana ia harus bekerja. Malah, dia kembali lagi menjadi seorang loper koran. Seperti biasa ia menjalani aktivitasnya, berjualan koran. Begitu seterusnya ia lakoni diluar sepengetahuan Ibu. Yang Ibu tahu, Dea menjalani pekerjaannya sebagai foto model dengan baik. Hingga 1 minggu kemudian, pihak studio foto menghampiri Ibu ke rumah ketika Dea masih bekerja. Mereka menagih kontrak kerjanya yang tak kunjung dilakoni oleh Dea. Ibu marah dan kecewa. Ibu menghadang Dea di depan pintu dengan amarah yang ingin diluapkan. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Bu. Dea pulang,” senyum Dea pada Ibu. “Bagus ya kamu, sudah berani berbohong pada Ibu. Kamu pikir Ibu nggak tahu hah? Selama ini ke mana saja kamu! Ibu malu dengan Pak Broto. Sama saja kita melanggar janjinya. Kamu tidak kasihan sama Ibu? Kamu betah hidup dengan penuh kekurangan? Iya? IYA hah?” kemarahan Ibu terluapkan sudah. Dea hanya diam membisu. Semakin tertunduk. Tak tahu harus berkata apa. Ia pun ingin marah juga dengan Ibu atas perlakuan Ibu yang tidak Dea suka. Tetapi apa dikata, Dea tak dapat berkutik. Bagaimana pun juga ia adalah Ibunya. “Ditanya malah diam saja! Jawab! Ke mana saja kamu? Mengapa kamu tidak menuruti kata-kata Ibu, Dea! Hidup kita itu sengsara. Ibu sudah tidak betah dengan semua ini! Tuhan itu tidak adil!” suara Ibu semakin meninggi. “Dea menjadi loper koran lagi. Maaf Bu, Dea terpaksa berbohong pada Ibu. Dea nggak suka dengan kemauan Ibu. Dea takut Allah marah sama Dea. Dea takut Ibu! Bapak pernah bilang sama kita, kita tidak boleh membuat Allah marah atas sikap-sikap kita. Apa Ibu tidak ingat? Iya Bu? Ibu tidak takut dosa? Apalagi ini Bulan Suci Ramadhan Bu. Ramadhan Ibu! Dea takut Bapak juga marah sama kita,” sambil memegang kedua kaki Ibu dengan isak tangis yang tak tertahankan. “Lepas! Jangan pegang kaki Ibu. Ibu kecewa denganmu! Ramadhan-ramadhan, nggak peduli! Apa kamu bilang? Kamu takut dengan Allah? Untuk apa ingat sama Allah? Untuk apa hah? Untuk apa? Apa Allah pernah mengabulkan doa-doa kita untuk tidak hidup melarat seperti ini. Padahal kita sudah bekerja keras. Tapi apa? Buka matamu! Dosa? Apa yang dosa? Menjadi seorang model cantik saja dosa! Di luar sana banyak model cantik yang tidak mempermasalahkan kerjaannya, sekalipun memakai baju terbuka, mereka biasa saja kan! Kamu berlebihan! Di luar sana saja banyak, untuk apa kita takut!” “Itu mereka Bu! Ini Dea, bukan mereka!” “Bapakmu? Asalkan kamu tahu, dulu keluarga kita tidak semelarat ini! Tetapi semenjak Bapak pergi, apa? Apa? Semua menjadi semakin berantakan. Dulu, Bapakmu rajin ibadah. Tapi ketika kamu mengalami kecelakaan parah, kondisi ekonomi kita sedang tidak mendukung. Bapakmu meminjam banyak uang untuk mengoperasi tanganmu yang robek. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit! Bapak meminjam pada orang yang disangkanya baik dan dermawan. Tapi apa buktinya? Bapakmu justru dibunuh oleh orang itu karena tidak kunjung melunasi hutangnya. Mana janji Allah untuk menolong hambanya yang terkena musibah? Mana janji-Nya untuk orang yang beribadah pada-Nya? Mana? Sampai sekarang kita tetap melarat kan? Bahkan Bapakmu mati menggenaskan hanya karena hutang yang belum terlunasi. Apa itu tidak kejam? Untuk apa ibadah terus kalau Tuhan tidak mendengarkan kita! Pikir coba! Pikir! Jika Allah baik dan adil, nggak mungkin Allah tega mencabut nyawa Bapakmu dengan begitu tragis! Hidup itu uang! Tanpa uang kita bakal mati begitu saja! Kamu mau hah? Mau mati seperti Bapakmu?” panjang lebar Ibu marah pada Dea. “Jadi, jadi, jadi itu alasan Ibu bahwa hidup itu uang? Hanya karena Ibu merasa Allah tidak menepati janjinya? Dan kematian Bapak itu karenaku Bu? Mengapa Ibu tidak bilang dari dulu. Mengapa Ibu bilang Bapak meninggal karena sakit parah? Apapun yang terjadi saat dulu, Dea betah dengan hidup seperti ini. Daripada Dea harus menjadi model yang melepas jilbab Dea!” “Iya, Ibu lelah berdoa terus tapi Allah tidak pernah membalasnya! Iya, semua karenamu! Sini tasmu!” paksa Ibu menarik tas Dea. “Astaghfirullah Ibu, itu cobaan dari-Nya sampai mana keimanan kita Ibu. Jangan sampai kita meninggalkan Allah Ibu. Lagi pula Allah tidak akan memberikan cobaan pada hambanya di luar kemampuan kita. Ibu pasti tahu itu kan? Untuk apa Bu tas Dea?” lagi-lagi bulir menetes di pipinya. “Sini!” sambil mengeluarkan baju dan jilbab Dea. “Mau diapakan baju dan jilbab Dea Bu?” cemasnya. Ibu masuk dalam kamar Dea. Mengambil semua baju-baju kumalnya. Korek api dan minyak tanah pun sudah siap. “Ibu, Ibu mau apa? Korek api? Minyak tanah? Ibu mau membakar semua baju-baju Dea? Ibu boleh bakar semua itu. Tapi tolong, tolong, tolong, jangan bakar jilbab Dea Ibu! Jangan! Jangan! Jangannnn! Itu hasil jerih payah Dea Ibu! Satu-satunya jilbab Dea setelah Ibu membuang jilbab pemberian Bapak dulu,” menangislah ia sekencang-kencangnya, menghiraukan tetangga yang mendengar perdebatan mereka. Begitu kencang memeluk kaki Ibu sampai ia terluka terkena depakan Ibu. “DIAM KAMU!” semakin Ibu marah. Semua terkumpul menjadi satu. Entah mengapa Ibu sampai semarah itu, membakar semua baju-baju lusuhnya Dea termasuk jilbab satu-satunya yang ia beli. Terbakarlah sudah semua itu. Ibu menambahkan minyak tanah, api pun semakin berkobar. Dan semakin deras pula air mata mengalir di pipinya. “Jangan Ibu, JANGANNNN!” semakin terisak tangisnya. “Ini adalah akibat kamu membohongi Ibu dan tidak mau menuruti kata Ibu. Jika kamu membantah lagi, Ibu tidak segan akan membakarnya lagi. Jilbabmu hanya akan menutupi kecantikanmu yang justru bisa menghasilkan banyak uang! Paham kamu!” “IBU JAHAT! Ibu tidak mengerti Dea! Dea tetap TIDAK AKAN menuruti kemauan Ibu menjadi seorang model. Dea tatap akan memakai jilbab sampai kapan pun Bu. TIDAK AKAN! Lebih baik Dea hidup susah daripada hidup kaya dengan uang yang tidak diridhoi Allah.” “Apa kamu bilang? Berani ya menantang Ibu. Ridho Allah itu ada pada ridho orangtua juga Dea! Kamu itu anak Ibu. Kalau kamu tetap teguh dengan keinginanmu itu. Jangan pernah panggil Ibu lagi! Jika kamu mau menjadi seorang model kamu ikut Ibu. Tapi jika tidak, pergilah dari rumah ini! Ibu tidak butuh anak yang tidak berbakti!” ucap Ibu yang tidak disangka-sangka akan mengucapkannya. “Ibu mengusir Dea? Ibu tidak membutuhkan Dea? Mengapa Ibu semarah itu? Maaf Ibu, maaf, bukan bermaksud Dea tidak menjadi anak yang berbakti untuk Ibu. Tapi Dea hanya ingin istiqomah dengan jilbab Dea. Dea tidak ingin melepasnya,” berusaha memeluk Ibu, meski Ibu menepisnya. Diam sejenak menghela nafas. “Ibu, izinkan aku berjilbab,” ucap Dea dengan begitu gemetar dan tangis yang semakin terisak. “Ibu, izinkan aku berjilbab, Bu. Dea akan melakukan apapun untuk Ibu. Asalkan tetap menggunakan jilbab dan sesuai aturan Allah Bu. Dea takut Allah marah.” “Oh, berarti tandanya kamu harus pergi dari rumah ini! Silakan, pintu terbuka lebar untuk anak yang tidak berbakti. Mulai sekarang, kamu bukan anak Ibu lagi! Ibu tidak mau melihat wajahmu lagi! Ibu bisa cari anak yang lebih cantik dari kamu untuk menggantikan kontrak kerja kamu! Dan tentunya hidup Ibu akan lebih baik dari sekarang.” “Tolong Ibu, jangan begitu. Dea harus tinggal di mana? Dea ingin sama Ibu terus.” “Tinggal saja di musholla. Banyak-banyaklah berdoa agar kamu bisa hidup kaya dengan jilbabmu itu.” Ya, rupanya Dea tetap istiqomah dengan pendiriannya. Ia meninggalkan Ibu dan rumahnya. Dengan tangan kosong ia pergi. Memakai kain jarit dan peniti untuk menutupi rambutnya. Betapa teguh ia menutupi auratnya, meski jilbab sudah menjadi abu, tidak ada alasan lain untuk tidak menutupinya. Dea tidak tahu harus ke mana ia pergi. Hingga tanpa sadar langkah kaki mengantarkannya ke musholla. Kebetulan saat itu adzan maghrib berkumandang. Berhentilah ia di sana untuk berbuka, sholat dan berdoa. Siapa tahu ia mendapat petunjuk apa yang harus ia lakukan dan ke mana ia harus melangkah setelah tarawih nanti. Dalam sujud jamaah terakhir, Dea begitu khusyuk menghadap-Nya. Ketika yang lain selesai sholat, Dea tetap berada dalam sujudnya tadi. Tak bergerak sama sekali. Orang-orang yang melihatnya bingung, apa yang harus dilakukan. Takut mengganggu sholatnya, tetapi juga takut terjadi apa-apa. Karena kalau memang ia sedang sholat seharusnya sudah selesai dari tadi bersama dengan jamaah lain. Seorang Ibu-ibu menepuk lembut lengan Dea. Membangunkannya yang disangka tertidur dalam sujud. Baru sekali tepuk, tubuh Dea dengan ringan terjatuh. Orang-orang memeriksanya, sebenarnya apa yang terjadi pada wanita yang sedang sujud tadi. Setelah diperiksa rupanya Allah berkehendak lain. Allah telah memanggil Dea dalam keadaan bersujud. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Dalam hembusan terakhirnya saat bersujud, sungguh benar adanya kuasa Allah, wajahnya bersinar dan tersenyum cantik. Semoga keistiqomahan dan kekayaan hatinya akan menjadi kekayaan di akhirat nanti, seperti ucapan terakhir Ibu padanya yang bisa menjadi doa, “Banyak-banyaklah berdoa agar kamu bisa hidup kaya dengan jilbabmu itu.” Semoga ia termasuk golongan orang khusnul khotimah. Meninggal dalam keadaan baik. Ya Allah, masukkanlah ia ke dalam golongan orang berpuasa yang bukan menahan lapar dan dahaga saja, melainkan golongan orang berpuasa yang bertaqwa kepada-Mu. Aamiin. Cukuplah terbukti ketaqwaannya pada-Mu Ya Rabb. Ia mencintai-Mu melebihi cintanya pada orang lain meski Ibunya sekalipun, yang tak menganggapnya sebagai anak lagi. Hanya kepada Engkaulah ia kembali. Sungguh, Ramadhan yang meninggalkan sejuta warna makna kehidupan. SELESAI