Minggu, 23 September 2012

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia erus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.”Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku enyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku
pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.”Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23, Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan istrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, membawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Hotel Terbaik di Dunia


Menurut Anda, Hotel apakah yang terbaik di dunia? Mungkin Anda akan menyebut jaringan hotel-hotel berbintang terkenal seperti Four Season, Hilton, Hyatt, atau mungkin hotel termahal di dunia yaitu Emirates Palace di Abu Dhabi. Mungkin tidak salah, tapi jika yang Anda cari bukan hanya interior kamar mewah berlapis emas bak kamar Raja, melainkan juga view-view indah disertai pengalaman tak terlupakan menjelajahi fasilitas-fasilitas alamnya, mungkin inilah yang terbaik.







Hotel Salto Chico menjadi salah satu yang terbaik karena lokasinya yang menakjubkan. Lokasinya tidak sulit dicapai melalui penerbangan dari Santiago ke Punta Arenos, Chili. Anda akan langsung disambut bak raja dan dijemput begitu tiba di airport. Setelah Anda menjejakkan kaki di dalam hotel, Anda akan disuguhi interior yang indah dan fasilitas-fasilitas akomodasi lainnya yang ditawarkan hotel ini. Tapi yang menjadikan hotel ini begitu istimewa sesungguhnya adalah alam sekitarnya yang menawarkan pemandangan indah, adventure sports, dan eksplorasi lainnya yang menakjubkan.



Fasilitas

Hotel Salto Chico menawarkan fasilitas terbaik yang mungkin tak akan terlupakan. Di sini terdapat 50 kamar eksklusif, termasuk 7 di antaranya dengan view ke arah air terjun Salto Chico, 6 suite, dan 37 ruang Cordillera Paine yang memiliki pemandangan ke Macizo del Paine di sebelahnya. Anda juga akan mendapatkan santapan-santapan lezat, makan malam, fasilitas laundry, komunikasi, dan bar di tiap kamarnya.



Jika Anda melangkah keluar hotel dan bermaksud menjelajahi keindahan alam di Patagonia, Anda mesti melakukan persiapan-persiapan terlebih dahulu. Seperti untuk menikmati hiking, trekking, atau bermain ski di sini jelas membutuhkan persediaan pakaian hangat dan tebal. Aksesoris-akksesoris seperti thermal underwear set, water-repellent windcheater, sarung tangan, goggles dan sepatu gunung wajib dibawa. Anda tidak harus membawanya dari rumah, karena semuanya bisa dibeli di toko lokal.



Anda bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan saat mengikuti acara eksplorasi yang diadakan oleh Hotel Salto Chico. The Lago Grey peninsula Walk adalah salah satu lokasi indah yang bisa memakan waktu setengah hari untuk menikmatinya. Jembatan gantung The Rio Pingo adalah yang paling menarik selain pemandangan dari Glacier Grey, gunung es, dan hutan lenga. Sementara Alturas Del Toro Walk adalah lokasi yang sempurna untuk acara full-day picnic. Anda bisa lihat indahnya alam di Rio Paine dan Valle Río Serrano.




Kegiatan outdoor menarik lainnya adalah tradisi barbeque di Quincho dan jalan-jalan di seputar Laguna Azul. Acara ini memakan waktu seharian penuh dan di sini Anda bisa menikmati kambing guling sambil menikmati denyut kehidupan liar seperti serigala, angsa, burung kondor, dan lainnya. Menaiki kapal boat menyeberangi Glacier Grey juga merupakan kesenangan tersendiri sambil menikmati ngarai-ngarai, sungai, dan hutan dari berbagai sudut.


Dalam perjalanan yang panjang Anda bisa beristirahat sejenak di the Mirador del Toro Walk. Di sini Anda akan menemukan pemandangan indah dari the Conaf Park. Gunung-gunung Cerro Ferrier dan Cerro Donoso yang menjulang di Lago Toro dan Rio Serrano turut menciptakan scene yang indah. Ingin lebih, Anda bisa mengikuti archaeological walk dari Guarderia Sarmiento menuju Guarderia Laguna Amarga. Di sini Anda bisa menikmati pemandangan gunung-gunung karang dari jaman kuno dipadu dengan view landscape yang fantastis.



Untuk yang menyukai menunggang kuda ada banyak lokasi di sini yang bisa dijelajahi seperti di dekat hutan di Río de las Chinas dan lokasi-lokasi lainnya seperti Estancia de Enero yang cocok untuk menghabiskan waktu sambil memacu kuda tunggangan. Di beberapa lokasi ini mungkin Anda masih bisa menemukan burung-burung kondor dan juga mendengar teriakan-teriakan elang.



Terakhir, jika ingin sesuatu yang unik dari alam di Hotel Salto Chico, Anda tidak boleh melewatkan Taman Nasional Torres del Paine. Disinilah akan dijumpai paduan sempurna berbagai macam flora, landscape yang indah, ditambah spesies-spesies wild-life. Masuk sebagai Kawasan Warisan Dunia tahun 1978 oleh UNESCO, taman nasional yang berlokasi di Patagonia tengah ini membentang hingga seluas 242.242 hektar. Di sini lengkap, Anda akan menemukan danau-danau, sungai, glaciers, dan air terjun untu Anda jelajahi. Jangan lupa juga untuk mampir ke desa El Calafate dan Perito Moreno di kawasan ini untuk melengkapi kunjungan Anda di Hotel Salto Chico.





Mungkin Anda memikirkan waktu dan terutama biaya untuk menikmati semua ini. Tapi bersama kekasih Anda tercinta, kenapa tidak?

Ibu, Izinkan Aku Berjilbab

“Hidup di dunia tanpa uang nggak bakal bisa hidup! Zaman sudah semakin maju, kalau kamu tak mencari uang, dunia akan memakan hidupmu! Untuk apa kamu beribadah terus kalau kamu nggak cari uang! Nggak usah mikir halal apa nggak, yang penting kita bisa hidup dengan uang!” garang seorang wanita berparuh baya pada anak yang begitu teduh wajahnya. Setiap hari, setiap kali ia membasuh wajahnya untuk pergi menghadap-Nya, setiap itulah ia harus mendengar amarah seorang wanita yang selalu menyuruhnya mencari uang, uang, dan uang. Tidak peduli halal dan haram. Yang terpenting dalam kamus wanita itu “Hidup itu uang.” Ia hanya terdiam membisu dan tunduk setiap kali ia mendesir dalam hatinya, “Mengapa Ibu selalu menjadikan hidup itu uang?” Ya, rupanya, wanita itu ialah ibunya. Pernah suatu ketika dengan lemah lembut dan isak suara yang terbata, ia bertanya pada Ibu mengenai itu. Namun apa yang terjadi? Ibu hanya mencerca dan mengusirnya. Ia tak dapat melawan. Bagaimanapun juga wanita itu adalah Ibunya yang wajib dihormati, yang memberi nama dan merawatnya hingga kini. Dalam akta kelahirannya tertera nama, Muliana Dea Safitri. Jika dipikir-pikir nama itu tidak biasa, penuh dengan makna islami. Namun apa nyatanya? Mereka hanya menggantungkan pada uang yang membutakan mereka. Terlebih Ibu. Tetapi tidak untuk Dea. Mereka hidup dengan banyak kekurangan dan hanya tinggal berdua setelah kematian Bapaknya yang sangat tragis pada 14 tahun lalu, saat Dea masih duduk di kelas 3 SD. Masa yang berbeda dari anak lainnya. Ketika yang lain terisi dengan warna warni dunia sekolah, Dea justru membanting tulang untuk ibu dan dirinya, meski hanya sebagai loper koran. Sedangkan Ibu menjadi salah satu pegawai salon kecantikan, yang setiap saat berkutat dengan alat-alat make up. Bahkan semenjak Bapak meninggal, Ibu melepas jilbabnya dan tidak pernah lupa memakai make up setiap akan bekerja. Terlebih lipstick dan blass on yang selalu ia bawa ke mana-mana. Katanya, agar terlihat awet muda. Pagi datang. Itu pertanda Dea harus memulai aktivitasnya. Ia raih jilbab kusutnya sedari SD, pemberian Bapak sebelum meninggal. Untung masih layak pakai, tetapi bagi dirinya, bagus atau tidaknya itu tidak penting. Yang terpenting dengan jilbabnya itu ia merasa benar-benar menjadi seorang wanita. Seperti kata Utadzah yang pernah ia dengar bahwa jilbab ialah identitas wanita yang harus dijaga. Baginya jilbab itu membuatnya nyaman dan terhindar dari jelalat mata lelaki yang tak bertanggungjawab. Pukul 07.00 saatnya ia bekerja. Menerjang teriknya mentari dengan sepeda bututnya yang selalu menemani, demi terkumpulnya uang untuk sesuap nasi. Meskipun puasa, tetapi bukanlah halangan untuknya untuk terus bekerja. “Dea, kali ini ada 80 koran yang saya kasih ke kamu. Bila kamu dapat menjual koran-koran itu lebih dari target seperti biasanya, saya akan kasih bonus untuk kamu. Dan lagi, ada 40 koran yang harus kamu antarkan ke rumah warga. Ini alamatnya,” kata Kepala Redaktur sembari memberikan koran dan daftar alamat warga. “Gerangan apa Bapak baik pada saya hari ini? Sungguh, terima kasih banyak Pak. Saya akan berusaha untuk menjualnya lebih dari target biasanya,” antusias Dea. “Apakah setiap kebaikan harus ada alasannya? Lakukan saja! Agar kamu dapat mengganti jilbab kusutmu itu. Saya jemu melihatnya!” ucap Bapak Saleh itu. “Oh iya ya. Yah, Bapak, ini kan satu-satunya sepeninggalan almarhum Bapak saya. Sayang kan kalau diganti.” “Tetapi bukan berarti kamu memakai itu terus. Kan bisa kamu simpan. Saya kan juga bosan! Apalagi di Bulan Suci Ramadhan ini, kasihan pembeli koran nanti, tak jadi membeli hanya kerena melihatmu begitu kumal. Sayang juga kan!” “Rupanya diam-diam Bapak memperhatikan saya ya. Baiklah, terima kasih Pak. Saya berangkat dulu,” senyum simpul ia utaskan, tak tersinggung sama sekali dengan perkataan beliau. Dalam hati ia berkata bahwa ia harus berusaha mendapatkan bonus itu, sekalipun lapar dan dahaga kian terasa. Ia parkirkan sepeda di pinggir jalan. Seperti biasa ia berkeliling dan menetap dari satu tempat ke tempat lainnya. “Koran, koran, koran, koran, koran, korannya Pak, Bu, Mas, Mbak. Cuma seribu rupiah. Dari berita Nasional sampai Internasional pun ada. Cuma seribu rupiah lho,” semangat Dea. Tanpa takut serak ia terus berteriak ke sana ke mari di persimpangan jalan. Dan tiba-tiba ada seorang pemuda gagah memanggil Dea di balik kaca jendela mobilnya yang sedikit terbuka. “Dek, korannya 4 ya,” ucap pemuda itu. “Oh iya Mas, tunggu. Nah ini, jadi empat ribu rupiah ya Mas.” “Kamu nggak sekolah?” “Saya harus bekerja mencari uang.” “Mencari uang? Anak semuda kamu sudah mencari uang?” heran pemuda itu mengeryitkan dahinya. Pemuda itu memandang lekat-lekat ujung kepala hingga ujung kaki Dea. “Memang tidak boleh, Mas? Mengapa Mas memandang saya begitu?” heran Dea. “Ya, terserah kamu. Oh, tidak-tidak, hanya melihatmu saja. Sebenarnya kauini memiliki paras yang cantik, tetapi penampilanmu saja yang terlihat kumal. Hm, sepertinya kaupantas jadi media saya. Ini ambil kartu nama saya. Hidupmu akan jauh lebih baik dari sekarang bila kau datang ke alamat itu dan mau bekerja untuk saya,” sambil menyodorkan kartu namanya. “Media? Media apa? Terima kasih, Mas.” “Kauakan tahu sendiri bila kaudatang,” menutup jendelanya dan pergi meninggalkan Dea. Dalam kartu nama itu tertera nama Broto Subayaningrat. Pemilik Studio Foto Model. “Studio Foto Model? Untuk apa aku datang ke sana? Sampai Mas-mas tadi bilang aku cantik dan pantas jadi medianya? Jangan-jangan…….,” gumamnya dalam hati dan terpotong ketika pembeli memanggilnya. “Mbak, Mbakk, Mbakkk,” panggil Ibu muda pada Dea sambil menepuk bahunya. “Eh iya Bu, maaf saya tadi melamun.” “Bukannya kerja malah melamun saja. Bagaimana mau dapat pelanggan banyak, kalau penjualnya suka melamun! Bagaimana si Mbak! Meski puasa, semangat dong Mbak! Saya mau beli korannya 2 Mbak.” “Iya-iya Bu, maafkan saya. Terima kasih sudah diingatkan, Bu. Ini Bu, jadi dua ribu rupiah ya.” Pergi menyusuri satu tempat ke tempat lainnya. Menggayuh dan terus menggayuh pedal sepedanya. Tak peduli terik matahari semakin menyengat. Untung ia berjilbab dan berlengan panjang. Setidaknya mengurangi panas yang kian menyengat. Hingga sore hari akhirnya ia mampu menjual korannya sampai 70 koran, yang biasanya ia hanya dapat menjual 50 koran. Hari ini memang sedang menjadi harinya. Ramadhan memang penuh berkah. Sesampainya di rumah, Ibu sudah menunggunya di depan pintu. Tanpa basa-basi Ibu berkata, “Ibu mau berbicara denganmu. Cepatlah masuk!” “Baik Bu.” “Besok kamu ijin 1 hari pada Bosmu. 1 hari itu akan menjadi hari yang sangat berharga untuk kita. Untuk mengubah keterpurukan kita selama ini.” “Tapi Bu, tidak memungkinkan aku untuk ijin. Beliau pasti akan marah.” “Sudahlah! Kamu nurut saja apa kata Ibu. Kalau perlu keluar saja sekalian. Apa kamu mau jadi loper koran seumur hidup? Keluar keringat, lelah, panas, dan belum tentu dapat uang banyak. Jangan membantah!” Dea hanya tertunduk lesu. Memikirkan bagaimana ia harus berbicara esok hari pada Bosnya yang galak tetapi baik itu. Esok harinya. “Pak, ada yang mau saya bicarakan dengan Bapak.” “Apa? Katakan saja.” Dengan sedikit gemetar ia berkata, “Saya mau ijin hari ini ada kepentingan dengan Ibu. Saya mohon maaf sekali, saya tidak bisa bekerja hari ini. Boleh, Pak?” “Oh, boleh. Kamu belum pernah ijin selama kamu bekerja. Dan saya rasa kamu adalah salah satu pekerja yang rajin. Pergilah,” ramah Bapak Saleh mengijinkan. “Sungguh, Pak? Bapak tidak marah? Wah, terima kasih banyak. Saya pergi dulu. Sekali lagi terima kasih, Pak Saleh,” pergi meninggalkan tempat redaksi dan pulang ke rumah. Setiba di rumah. “Masuk ke kamar Ibu sekarang! Cepat, waktu semakin berjalan! Jangan sampai semua gagal!” perintah Ibu. “Iya Bu, sebenarnya Dea mau diapakan, Bu?” “Masuk saja! Pakai kain ini untuk menutup matamu!” Dalam pikirnya, mungkin Ibu mau memberikan kejutan padanya yang tak pernah ia dapatkan lagi setelah Bapak pergi meninggalkan mereka. Di dalam kamar Ibu. Semua perlengkapan make up, Ibu keluarkan. Termasuk pakaian cantik yang Ibu pilihkan untuk Dea. Pakaian yang memperlihatkan lekak lekuk tubuhnya, mengumbar aura yang memanah mata lelaki. Tidak peduli Ramadhan atau bukan, yang terpenting Ibu harus melakukan misinya. Semua siap di atas kasur Ibu. Dan saatnya Ibu memoles wajah Dea. Setelah 15 menit lamanya, sungguh takkan ada yang berkedip sedikitpun jika melihatnya. Cantik jelita. “Buka penutup matamu!” perintah Ibu lagi. “Ibu, mau ke mana kita berdandan seperti ini? Dea nggak suka dengan pakaian begini. Mana jilbab Dea Ibu? Dea mau pakai! Dea nggak mau pakai baju seperti ini! Nggak mau!” kesal Dea. Begitu kaget Dea melihat dirinya sendiri. Marah dan kecewa pada Ibu. “DIAM! Ikuti saja mau Ibu. Buat apa jilbabmu? Sudah kusut, kumal, tidak layak pula! Lihatlah, kamu lebih cantik berdandan seperti ini anakku. Jilbabmu hanya akan menutupi kecantikanmu saja. Manfaatkan kecantikanmu! Ayo kita pergi!” menarik tangan Dea. “Ibuuuuu, Dea nggak mau keluar! Dea malu. Dea malu. Dea malu Ibu! Apa kata orang-orang di luar sana yang sedang berpuasa bila Dea berpakaian seperti ini Bu kasihan lelaki yang melihat Dea. Sama saja Dea yang memancing mereka untuk melihat aurat Dea. Dea tidak rela Bu!” keluarlah air matanya yang tak tertahan di pelupuk mata. “Cantik-cantik begini kok malu. Puasa-puasa! Yang puasa itu mereka ya biarkan. Nggak usah pikirin orang lain. Kalau orang itu tidak mata keranjang, mereka tidak akan melihatmu. Tergantung merekanya saja! Apa kamu puasa? Nggak kan? Untuk apa puasa kalau hati kita belum bener! Jangan menangis! Make upmu bisa luntur! Sudahlah, jangan membuat telinga Ibu sakit karena suaramu!” Ibu memang tidak berpuasa. Bagi Ibu puasa tidak menguntungkan. Hanya menahan lapar dan dahaga saja. Namun tidak untuk Dea, diam-diam ia berpuasa. Meski ia harus menahan lapar dan dahaganya tanpa sahur. Mengingatkan Ibuuntuk berpuasa pun percuma. Pasrah. Dengan langkah gontai dan tertunduk dalam, Dea berjalan dengan Ibu. “Angkat wajahmu! Jangan menunduk. Kamu ini cantik. Percayalah sama Ibu. Pakaianmu juga biasa saja. Tidak terbuka sekali! Angkat dong sayang,” sambil mengangkat dagu Dea agar paras cantiknya bisa terlihat. Langsung semua mata munuju padanya. Tidak lain, lelaki yang berhidung belang. Kecewalah sudah Dea pada dirinya sendiri. Gugurlah sudah puasanya di hari itu. Malu berat. Tak dapat bekutik sedikitpun. Setiba di Studio Foto Model. “Selamat Pagi Pak Broto. Seperti janji saya, saya akan membawa anak saya ke hadapan Bapak. Bagaimana? Cantik bukan? Sudah, Bapak tidak perlu banyak pertimbangan lagi. Cepat saja jadikan ia sebagai model percobaan desain gaun Bapak, sebelum ia diambil oleh studio lain lho,” rayu Ibu. Terheran-heran Pak Broto pada Dea, “Lho, kaukan loper koran yang berjilbab kusut itu kan? Yang kemarin saya kasih kartu nama saya. Iya kan? Apa saya bilang, kauini cantik jelita. Takkan rugi menjadi model saya. Tenang, kauakan diajarkan bergaya oleh pihak sini.” Dea hanya tertunduk malu dan lemas. Pasrah. “Wah, rupanya Bapak sudah mengenal anak saya. Baguslah. Dunia memang sempit! Jadi Bapak setuju kan?” “Ya jelas saya setuju dong! Tinggal anak Ibu saja yang mau menurut dengan kami.” “Oh tenang Pak, semuanya bisa diatur. Anak saya jelas mau. Iya kan sayang?” lirik Ibu pada Dea. “I, I, I, ya Bu,” terbata ia menjawab. “Kan Pak, sudah saya bilang. Pasti anak saya mau,” yakin Ibu. “Baiklah, kalau begitu Ibu tanda tangan di sini. Sebagai tanda kontrak kerja kita. Ini ada sedikit uang untuk membeli baju-baju untuk datang ke sini esok hari. Tidak mungkin anak Ibu datang ke sini mengenakan pakaian seperti itu. Saya tahu pasti kalian membutuhkan uang ini,” menyodorkan segenggam uang. “Ah, Bapak tahu saja. Baik Pak. Terima kasih.” Semua berhasil, dalam perjanjian itu Dea akan mendapat honor satu juta sekali foto. Di mana ia harus 5 kali foto setiap 1 minggu sekali. Berarti dalam seminggu Dea akan memperoleh uang sebanyak 5 juta. Waw, itu sama saja uang yang dikumpulkan oleh Dea dari pekerjaannya selama 3 tahun. Esok pagi Dea harus sudah menjalani masa kontraknya itu. Bekerja menjadi seorang model foto percobaan desain gaun Pak Broto yang masih muda itu. “Gitu dong! Itu baru anak Ibu. Di sana jangan macam-macam ya! Kamu harus menurut dengan perkataan pihak sana. Ibu yakin, kamu bisa melakukannya. Tersenyumlah, kamu memang cantik seperti Ibu.” “Iya Bu,” jawabnya lemah. Ketika ia sampai di musholla kesehariannya, ia langsung menuju kamar mandi. Ia mengeluarkan jilbab barunya yang ia beli dari bonus yang dikasih oleh Pak Saleh. Rupanya ia berganti pakaian seperti biasanya. Dan ternyata, ia tidak menuju studio foto di mana ia harus bekerja. Malah, dia kembali lagi menjadi seorang loper koran. Seperti biasa ia menjalani aktivitasnya, berjualan koran. Begitu seterusnya ia lakoni diluar sepengetahuan Ibu. Yang Ibu tahu, Dea menjalani pekerjaannya sebagai foto model dengan baik. Hingga 1 minggu kemudian, pihak studio foto menghampiri Ibu ke rumah ketika Dea masih bekerja. Mereka menagih kontrak kerjanya yang tak kunjung dilakoni oleh Dea. Ibu marah dan kecewa. Ibu menghadang Dea di depan pintu dengan amarah yang ingin diluapkan. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Bu. Dea pulang,” senyum Dea pada Ibu. “Bagus ya kamu, sudah berani berbohong pada Ibu. Kamu pikir Ibu nggak tahu hah? Selama ini ke mana saja kamu! Ibu malu dengan Pak Broto. Sama saja kita melanggar janjinya. Kamu tidak kasihan sama Ibu? Kamu betah hidup dengan penuh kekurangan? Iya? IYA hah?” kemarahan Ibu terluapkan sudah. Dea hanya diam membisu. Semakin tertunduk. Tak tahu harus berkata apa. Ia pun ingin marah juga dengan Ibu atas perlakuan Ibu yang tidak Dea suka. Tetapi apa dikata, Dea tak dapat berkutik. Bagaimana pun juga ia adalah Ibunya. “Ditanya malah diam saja! Jawab! Ke mana saja kamu? Mengapa kamu tidak menuruti kata-kata Ibu, Dea! Hidup kita itu sengsara. Ibu sudah tidak betah dengan semua ini! Tuhan itu tidak adil!” suara Ibu semakin meninggi. “Dea menjadi loper koran lagi. Maaf Bu, Dea terpaksa berbohong pada Ibu. Dea nggak suka dengan kemauan Ibu. Dea takut Allah marah sama Dea. Dea takut Ibu! Bapak pernah bilang sama kita, kita tidak boleh membuat Allah marah atas sikap-sikap kita. Apa Ibu tidak ingat? Iya Bu? Ibu tidak takut dosa? Apalagi ini Bulan Suci Ramadhan Bu. Ramadhan Ibu! Dea takut Bapak juga marah sama kita,” sambil memegang kedua kaki Ibu dengan isak tangis yang tak tertahankan. “Lepas! Jangan pegang kaki Ibu. Ibu kecewa denganmu! Ramadhan-ramadhan, nggak peduli! Apa kamu bilang? Kamu takut dengan Allah? Untuk apa ingat sama Allah? Untuk apa hah? Untuk apa? Apa Allah pernah mengabulkan doa-doa kita untuk tidak hidup melarat seperti ini. Padahal kita sudah bekerja keras. Tapi apa? Buka matamu! Dosa? Apa yang dosa? Menjadi seorang model cantik saja dosa! Di luar sana banyak model cantik yang tidak mempermasalahkan kerjaannya, sekalipun memakai baju terbuka, mereka biasa saja kan! Kamu berlebihan! Di luar sana saja banyak, untuk apa kita takut!” “Itu mereka Bu! Ini Dea, bukan mereka!” “Bapakmu? Asalkan kamu tahu, dulu keluarga kita tidak semelarat ini! Tetapi semenjak Bapak pergi, apa? Apa? Semua menjadi semakin berantakan. Dulu, Bapakmu rajin ibadah. Tapi ketika kamu mengalami kecelakaan parah, kondisi ekonomi kita sedang tidak mendukung. Bapakmu meminjam banyak uang untuk mengoperasi tanganmu yang robek. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit! Bapak meminjam pada orang yang disangkanya baik dan dermawan. Tapi apa buktinya? Bapakmu justru dibunuh oleh orang itu karena tidak kunjung melunasi hutangnya. Mana janji Allah untuk menolong hambanya yang terkena musibah? Mana janji-Nya untuk orang yang beribadah pada-Nya? Mana? Sampai sekarang kita tetap melarat kan? Bahkan Bapakmu mati menggenaskan hanya karena hutang yang belum terlunasi. Apa itu tidak kejam? Untuk apa ibadah terus kalau Tuhan tidak mendengarkan kita! Pikir coba! Pikir! Jika Allah baik dan adil, nggak mungkin Allah tega mencabut nyawa Bapakmu dengan begitu tragis! Hidup itu uang! Tanpa uang kita bakal mati begitu saja! Kamu mau hah? Mau mati seperti Bapakmu?” panjang lebar Ibu marah pada Dea. “Jadi, jadi, jadi itu alasan Ibu bahwa hidup itu uang? Hanya karena Ibu merasa Allah tidak menepati janjinya? Dan kematian Bapak itu karenaku Bu? Mengapa Ibu tidak bilang dari dulu. Mengapa Ibu bilang Bapak meninggal karena sakit parah? Apapun yang terjadi saat dulu, Dea betah dengan hidup seperti ini. Daripada Dea harus menjadi model yang melepas jilbab Dea!” “Iya, Ibu lelah berdoa terus tapi Allah tidak pernah membalasnya! Iya, semua karenamu! Sini tasmu!” paksa Ibu menarik tas Dea. “Astaghfirullah Ibu, itu cobaan dari-Nya sampai mana keimanan kita Ibu. Jangan sampai kita meninggalkan Allah Ibu. Lagi pula Allah tidak akan memberikan cobaan pada hambanya di luar kemampuan kita. Ibu pasti tahu itu kan? Untuk apa Bu tas Dea?” lagi-lagi bulir menetes di pipinya. “Sini!” sambil mengeluarkan baju dan jilbab Dea. “Mau diapakan baju dan jilbab Dea Bu?” cemasnya. Ibu masuk dalam kamar Dea. Mengambil semua baju-baju kumalnya. Korek api dan minyak tanah pun sudah siap. “Ibu, Ibu mau apa? Korek api? Minyak tanah? Ibu mau membakar semua baju-baju Dea? Ibu boleh bakar semua itu. Tapi tolong, tolong, tolong, jangan bakar jilbab Dea Ibu! Jangan! Jangan! Jangannnn! Itu hasil jerih payah Dea Ibu! Satu-satunya jilbab Dea setelah Ibu membuang jilbab pemberian Bapak dulu,” menangislah ia sekencang-kencangnya, menghiraukan tetangga yang mendengar perdebatan mereka. Begitu kencang memeluk kaki Ibu sampai ia terluka terkena depakan Ibu. “DIAM KAMU!” semakin Ibu marah. Semua terkumpul menjadi satu. Entah mengapa Ibu sampai semarah itu, membakar semua baju-baju lusuhnya Dea termasuk jilbab satu-satunya yang ia beli. Terbakarlah sudah semua itu. Ibu menambahkan minyak tanah, api pun semakin berkobar. Dan semakin deras pula air mata mengalir di pipinya. “Jangan Ibu, JANGANNNN!” semakin terisak tangisnya. “Ini adalah akibat kamu membohongi Ibu dan tidak mau menuruti kata Ibu. Jika kamu membantah lagi, Ibu tidak segan akan membakarnya lagi. Jilbabmu hanya akan menutupi kecantikanmu yang justru bisa menghasilkan banyak uang! Paham kamu!” “IBU JAHAT! Ibu tidak mengerti Dea! Dea tetap TIDAK AKAN menuruti kemauan Ibu menjadi seorang model. Dea tatap akan memakai jilbab sampai kapan pun Bu. TIDAK AKAN! Lebih baik Dea hidup susah daripada hidup kaya dengan uang yang tidak diridhoi Allah.” “Apa kamu bilang? Berani ya menantang Ibu. Ridho Allah itu ada pada ridho orangtua juga Dea! Kamu itu anak Ibu. Kalau kamu tetap teguh dengan keinginanmu itu. Jangan pernah panggil Ibu lagi! Jika kamu mau menjadi seorang model kamu ikut Ibu. Tapi jika tidak, pergilah dari rumah ini! Ibu tidak butuh anak yang tidak berbakti!” ucap Ibu yang tidak disangka-sangka akan mengucapkannya. “Ibu mengusir Dea? Ibu tidak membutuhkan Dea? Mengapa Ibu semarah itu? Maaf Ibu, maaf, bukan bermaksud Dea tidak menjadi anak yang berbakti untuk Ibu. Tapi Dea hanya ingin istiqomah dengan jilbab Dea. Dea tidak ingin melepasnya,” berusaha memeluk Ibu, meski Ibu menepisnya. Diam sejenak menghela nafas. “Ibu, izinkan aku berjilbab,” ucap Dea dengan begitu gemetar dan tangis yang semakin terisak. “Ibu, izinkan aku berjilbab, Bu. Dea akan melakukan apapun untuk Ibu. Asalkan tetap menggunakan jilbab dan sesuai aturan Allah Bu. Dea takut Allah marah.” “Oh, berarti tandanya kamu harus pergi dari rumah ini! Silakan, pintu terbuka lebar untuk anak yang tidak berbakti. Mulai sekarang, kamu bukan anak Ibu lagi! Ibu tidak mau melihat wajahmu lagi! Ibu bisa cari anak yang lebih cantik dari kamu untuk menggantikan kontrak kerja kamu! Dan tentunya hidup Ibu akan lebih baik dari sekarang.” “Tolong Ibu, jangan begitu. Dea harus tinggal di mana? Dea ingin sama Ibu terus.” “Tinggal saja di musholla. Banyak-banyaklah berdoa agar kamu bisa hidup kaya dengan jilbabmu itu.” Ya, rupanya Dea tetap istiqomah dengan pendiriannya. Ia meninggalkan Ibu dan rumahnya. Dengan tangan kosong ia pergi. Memakai kain jarit dan peniti untuk menutupi rambutnya. Betapa teguh ia menutupi auratnya, meski jilbab sudah menjadi abu, tidak ada alasan lain untuk tidak menutupinya. Dea tidak tahu harus ke mana ia pergi. Hingga tanpa sadar langkah kaki mengantarkannya ke musholla. Kebetulan saat itu adzan maghrib berkumandang. Berhentilah ia di sana untuk berbuka, sholat dan berdoa. Siapa tahu ia mendapat petunjuk apa yang harus ia lakukan dan ke mana ia harus melangkah setelah tarawih nanti. Dalam sujud jamaah terakhir, Dea begitu khusyuk menghadap-Nya. Ketika yang lain selesai sholat, Dea tetap berada dalam sujudnya tadi. Tak bergerak sama sekali. Orang-orang yang melihatnya bingung, apa yang harus dilakukan. Takut mengganggu sholatnya, tetapi juga takut terjadi apa-apa. Karena kalau memang ia sedang sholat seharusnya sudah selesai dari tadi bersama dengan jamaah lain. Seorang Ibu-ibu menepuk lembut lengan Dea. Membangunkannya yang disangka tertidur dalam sujud. Baru sekali tepuk, tubuh Dea dengan ringan terjatuh. Orang-orang memeriksanya, sebenarnya apa yang terjadi pada wanita yang sedang sujud tadi. Setelah diperiksa rupanya Allah berkehendak lain. Allah telah memanggil Dea dalam keadaan bersujud. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Dalam hembusan terakhirnya saat bersujud, sungguh benar adanya kuasa Allah, wajahnya bersinar dan tersenyum cantik. Semoga keistiqomahan dan kekayaan hatinya akan menjadi kekayaan di akhirat nanti, seperti ucapan terakhir Ibu padanya yang bisa menjadi doa, “Banyak-banyaklah berdoa agar kamu bisa hidup kaya dengan jilbabmu itu.” Semoga ia termasuk golongan orang khusnul khotimah. Meninggal dalam keadaan baik. Ya Allah, masukkanlah ia ke dalam golongan orang berpuasa yang bukan menahan lapar dan dahaga saja, melainkan golongan orang berpuasa yang bertaqwa kepada-Mu. Aamiin. Cukuplah terbukti ketaqwaannya pada-Mu Ya Rabb. Ia mencintai-Mu melebihi cintanya pada orang lain meski Ibunya sekalipun, yang tak menganggapnya sebagai anak lagi. Hanya kepada Engkaulah ia kembali. Sungguh, Ramadhan yang meninggalkan sejuta warna makna kehidupan. SELESAI

Jumat, 17 Agustus 2012

Umar bin Abdul-Aziz

Umar II
Masa kekuasaan 717 – 720
Dinobatkan 717
Dilantik 717
Nama lengkap Umar bin Abdul-Aziz
Pendahulu Sulaiman bin Abdul-Malik
Pengganti Yazid bin Abdul-Malik
Pasangan dari Fatimah binti Abdul-Malik
Anak Abdul-Malik bin Umar
Wangsa Banu Abd Shams
Dinasti Umayyah
Ayah Abdul-Aziz bin Marwan
Ibu Ummu Asim Laila binti Asim
Umar bin Abdul-Aziz (bahasa Arab: عمر بن عبد العزيز, bergelar Umar II, lahir pada tahun 63 H / 682 – Februari 720; umur 37–38 tahun)[1] adalah khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun) sampai 720 (selama 2–3 tahun). Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, ia bukan merupakan keturunan dari khalifah sebelumnya, tetapi ditunjuk langsung, dimana ia merupakan sepupu dari khalifah sebelumnya, Sulaiman.

Biografi

Keluarga

Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, dimana umat Muslim menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat.

Silsilah

Umar dilahirkan sekitar tahun 682. Beberapa tradisi menyatakan ia dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengklaim ia lahir di Mesir. Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.

Kisah Umar bin Khattab berkaitan dengan kelahiran Umar II

Menurut tradisi Muslim Sunni, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.
"Khalifah Umar sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.
Kata ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari
Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini
Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.
Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.
Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu.
Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu.
Kata Umar, "Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.
Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.

Kehidupan awal

682 – 715

Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I

715 – 715: era Al-Walid I

Tidak seperti sebagaian besar penguasa pada saat itu, Umar membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, sebagai tambahan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.
Pada era Al-Walid I ini juga tercatat tentang keputusan khalifah yang kontroversial untuk memperluas area di sekitar masjid Nabawi sehingga rumah Rasulullah ikut direnovasi. Umar membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah termasuk ulama mereka, Said Al Musayyib sehingga banyak dari mereka yang mencucurkan air mata. Berkata Said Al Musayyib: "Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana"[2]

715 – 717: era Sulaiman

Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan al-Walid I dan kemudian dilanjutkan oleh saudara al-Walid, Sulaiman. Sulaiman, yang juga merupakan sepupu Umar selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar.
Kedekatan Umar dengan Sulaiman
Sulaiman bin Abdul-Malik merupakan sepupu langsung dengan Umar. Mereka berdua sangat erat dan selalu bersama. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul-Malik, dunia dinaungi pemerintahan Islam. Kekuasaan Bani Umayyah sangat kukuh dan stabil.
Suatu hari, Sulaiman mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah.
Sulaiman bertanya kepada Umar "Apakah yang kau lihat wahai Umar bin Abdul-Aziz?" dengan niat agar dapat membakar semangat Umar ketika melihat kekuatan pasukan yang telah dilatih.
Namun jawab Umar, "Aku sedang lihat dunia itu sedang makan antara satu dengan yang lain, dan engkau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan akan ditanyakan oleh Allah mengenainya".
Khalifah Sulaiman berkata lagi "Engkau tidak kagumkah dengan kehebatan pemerintahan kita ini?"
Balas Umar lagi, "Bahkan yang paling hebat dan mengagumkan adalah orang yang mengenali Allah kemudian mendurhakai-Nya, mengenali setan kemudian mengikutinya, mengenali dunia kemudian condong kepada dunia".
Jika Khalifah Sulaiman adalah pemimpin biasa, sudah barang tentu akan marah dengan kata-kata Umar bin Abdul-Aziz, namun beliau menerima dengan hati terbuka bahkan kagum dengan kata-kata itu.

Menjadi khalifah

Umar menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716. Ia di bai'at sebagai khalifah pada hari Jumat setelah salat Jumat. Hari itu juga setelah ashar, rakyat dapat langsung merasakan perubahan kebijakan khalifah baru ini. Khalifah Umar, masih satu nasab dengan Khalifah kedua, Umar bin Khattab dari garis ibu.
Zaman pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah. Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Gajinya selama menjadi khalifah hanya 2 dirham perhari[3] atau 60 dirham perbulan. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5. Khalifah Umar ini hanya memerintah selama tiga tahun kurang sedikit. Menurut riwayat, beliau meninggal karena dibunuh (diracun) oleh pembantunya.

Sebelum menjabat

Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati beliau, "Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?". Jawab Khalifah Sulaiman, "Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz".
Surat wasiat diarahkan supaya ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi dirahasiakan darai kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman, beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.

Naiknya Umar sebagai Amirul Mukminin

Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, "Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini".
Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki".
Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah.
Ketika pulang ke rumah, Umar berfikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Ia berniat untuk tidur.
Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat ayahnya dan berkata, "Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?".
Umar menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini".
"Jadi apa engkau akan buat wahai ayah?", Tanya anaknya ingin tahu.
Umar membalas, "Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk salat bersama rakyat".
Apa pula kata anaknya apabila mengetahui ayahnya Amirul Mukminin yang baru “Ayah, siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi” Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku”

Pemerintahan Umar bin Abdul-Aziz

Hari kedua dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Dihujung khutbahnya, beliau berkata “Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad saw dan tiada kitab selepas al-Quran, aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi Allah” Beliau kemudian duduk dan menangis "Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku" sambung Umar Ibn Abdul Aziz.
Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jawatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw’’ Isterinya juga turut mengalir air mata.
Umar Ibn Abdul Aziz mula memeritah pada usia 36 tahun sepanjang tempoh 2 tahun 5 bulan 5 hari. Pemerintahan beliau sangat menakjubkan. Pada waktu inilah dikatakan tiada siapa pun umat Islam yang layak menerima zakat sehingga harta zakat yang menggunung itu terpaksa diiklankan kepada sesiapa yang tiada pembiayaan untuk bernikah dan juga hal-hal lain.

Surat dari Raja Sriwijaya

Tercatat Raja Sriwijaya pernah dua kali mengirimkan surat kepada khalifah Bani Umayyah. Yang pertama dikirim kepada Muawiyah I, dan yang ke-2 kepada Umar bin Abdul-Aziz. Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (860-940) dalam karyanya Al-Iqdul Farid. Potongan surat tersebut berbunyi:[4]
Dari Rajadiraja...; yang adalah keturunan seribu raja ... kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan yang lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.

Hari-hari terakhir Umar bin Abdul-Aziz

Umar bin Abdul-Aziz wafat disebabkan oleh sakit akibat diracun oleh pembantunya. Umat Islam datang berziarah melihat kedhaifan hidup khalifah sehingga ditegur oleh menteri kepada isterinya, "Gantilah baju khalifah itu", dibalas isterinya, "Itu saja pakaian yang khalifah miliki".
Apabila beliau ditanya “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu kepada anak-anakmu?”
Umar Abdul Aziz menjawab: "Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa"
"Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?"
"Jika anak-anakku orang soleh, Allah lah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka orang-orang yang tidak soleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah"
Pada waktu lain, Umar bin Abdul-Aziz memanggil semua anaknya dan berkata: "Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga (kerana tidak menggunakan uang rakyat). Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga." (beliau tidak berkata : aku telah memilih kamu susah)
Anak-anaknya ditinggalkan tidak berharta dibandingkan anak-anak gubernur lain yang kaya. Setelah kejatuhan Bani Umayyah dan masa-masa setelahnya, keturunan Umar bin Abdul-Aziz adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakkal Umar bin Abdul-Aziz.
Tentang dua wanita bernama A dan B. Baca deh.. :)
A :“Assalamu'alaikum saudariku....”
B : “Wa'alaikum salam. Selamat datang saudariku”
A: “Terima kasih. Apakah ini. surga?”
B tersenyum: “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”
A: "Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti
apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sdh seindah ini”
B tersenyum lagi: ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku?”
A: "Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah”
B: “Alhamdulillah..”
Tiba-tiba jauh di ujung taman, A melihat sebuah pintu yg sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yg berada di taman itu mulai memasukinya satu-persatu.
B: “Ayo kita ikuti mereka” katanya setengah berlari.
“Apa di balik pintu itu?” Tanya A sambil mengikuti B.
“Tentu saja surga saudariku” larinya B semakin cepat
“Tunggu...tunggu aku..” teriak A, ia berlari namun tetap tertinggal
B hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya. A tetap tak mampu mengejar B meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak kpd B: “Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan?”
“Sama dengan engkau
saudariku.” jawab B sambil tersenyum.
B telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum B melewati pintu
sepenuhnya, A berteriak: “Amalan apalagi yang kau lakukan tapi tidak kulakukan ?”
B menjawab: “Apakah kau tak
memperhatikan dirimu, apa yg membedakanmu dgn diriku ?” Kemudian B melanjutkan: “Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYA tanpa jilbab menutup auratmu? Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu saja karena niatmu adalah menghijabi hati.”
A tertegun.. lalu terbangun.. Ia beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam.
Menangis dan menyesali perkataannya dulu.. Kemudian ia berjanji pada ALLAH SWT sejak saat itu ia akan menutup auratnya..

5 Ilmuwan Ini Menjadi Muslim Setelah Melakukan Riset Ilmiah



"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi". Demikian bunyi surah Ali Imron ayat 190-191.

Ayat di atas menjelaskan tentang kebesaran Allah; bahwa keberadaan dan kebesaran-Nya dapat dibuktikan melalui adanya alam semesta. Orang-orang yang berakal (ulul Albab/cendekiawan) yang disebutkan dalam ayat itu dapat membuktikan keberadaan Allah melalui penelitian terhadap ciptaan-Nya. Sehingga tidak mengherankan, tidak sedikit manusia yang pada mulanya berada dalam kejahiliyahan, akhirnya memeluk Islam dan menjadi muslim yang teguh setelah menemukan kebenaran pernyataan Alquran tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Dalam Alquran sendiri, meski baru diturunkan 14 abad yang lalu, sudah banyak mengungkap fakta-fakta alam semesta secara ilmiah. Satu persatu fakta-fakta itu terbuktikan kebenarannya sehingga melahirkan beragam ilmu pengetahuan.

Pada abad modern ini, pembuktian kebenaran Alquran banyak dilakukan oleh ilmuwan non-muslim. Bahkan tidak sedikit di antara mereka akhirnya yang dengan keikhlasan mengucap dua kalimat syahadat.

1. Maurice Bucaille, masuk Islam karena jasad Fir'aun

Prof Dr Maurice Bucaille adalah adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Kisah di balik keputusannya masuk Islam diawali pada tahun 1975.

Pada saat itu, pemerintah Prancis menawari bantuan kepada pemerintah Mesir untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Bucaille lah yang menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet. Namun penemuan yang dilakukan Bucaille menyisakan pertanyaan: Bagaimana jasad tersebut bisa terjaga dan lebih baik dari jasad-jasad yang lain (tengkorak bala tentara Firaun), padahal telah dikeluarkan dari laut?

Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul 'Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern', dengan judul aslinya, 'Les Momies des Pharaons et la Midecine'.

Saat menyiapkan laporan akhir, salah seorang rekannya membisikkan sesuatu di telinga Bucaille seraya berkata: "Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini".

Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Namun, ia masih bertanya-tanya tentang kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa as, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya terhadap Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: "Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini".

2. Jacques Yves Costeau, di lautan terdalam menemukan Islam

Mr Jacques Yves Costeau adalah seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis yang lahir pada 11 Juni 1910. Sepanjang hidupnya ia menghabiskan waktu dengan menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia melalui stasiun tv Discovery Channel.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Sehingga seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu kepadanya. Profesor tersebut lalu teringat ayat Alquran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez.

Ayat itu berbunyi: "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing".

Kemudian dibacakan surat Al-Furqan ayat 53 : "Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi."

Terpesonalah Mr Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Costeau pun berkata bahwa Alquran memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Tak lama, Mr Costeau memeluk Islam.

3. Demitri Bolykov, meyakini matahari akan terbit dari Barat

Sebagai seorang ahli fisika asal Ukraina, Demitri Bolykov mengatakan bahwa pintu masuk ke Islam baginya adalah fisika. Demitri tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof Nicolai Kosinikov, yang juga merupakan pakar fisika.

Teori yang dikemukan oleh Prof Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menafsirkan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sampel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan, ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan "Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika". Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya.

Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan "kekuatan penggerak" yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya intensitas daya matahari.

Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung. Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun.

Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa "gerak" perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itu matahari akan terbit (keluar) dari Barat.

Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian.

Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima taubatnya."

4. Dr.Fidelma O’Leary, menemukan rahasia sujud dalam salat

Dr Fidelma, ahli neurologi asal Amerika Serikat mendapat hidayah saat melakukan kajian terhadap saraf otak manusia. Ketika melakukan penelitian, ia menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup agar dapat berfungsi secara normal.

Penasaran dengan penemuannya, ia mencoba mengkaji lebih serius. Setelah memakan waktu lama, penelitiannya pun tidak sia-sia. Akhirnya dia menemukan bahwa ternyata darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali ketika seseorang tersebut melakukan sujud dalam salat. Artinya, kalau manusia tidak menunaikan ibadah shalat, otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.

Rupanya memang urat saraf dalam otak tersebut hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat otak dengan mengikuti waktu salat.

Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan. Karena posisi sujud akan mengalirkan darah yang kaya oksigen secara maksimal dari jantung ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang.

Setelah penelitian mengejutkan tersebut, Fidelma mencari tahu tentang Islam melalui buku-buku Islam dan diskusi dengan rekan-rekan muslimnya. Setelah mempelajari dan mendiskusikannya, ia malah merasa bahwa ajaran Islam sangat logis. Hatinya begitu tenang ketika mengkaji dan menyelami agama samawi ini.

5. Profesor William, menemukan tumbuhan yang bertasbih

Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat tentang suara halus yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa (ulstrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam menggunakan alat perekam canggih.

Dari alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini, getaran ultrasonik tersebut dapat dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis.

Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka ke hadapan tim peneliti Inggris di mana salah seorangnya adalah peneliti muslim.

Yang mengejutkan, getaran halus ultrasonik yang tertransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz Allah dalam layar. Para ilmuwan Inggris ini lantas terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan.

Peniliti muslim ini lalu mengatakan jika temuan tersebut sesuai dengan keyakinan kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Para ilmuwan AS dan tim peneliti Inggris yang mendengar ucapan itu lalu memintanya untuk menjelaskan lebih dalam maksud yang dikatakannya.

Sang peneliti muslim kemudian membaca ayat dalam Alquran yang berbunyi:

"Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, dan bumi (juga), dan segala yang ada di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun," (QS Isra: 44).

Setelah menjelaskan tentang Islam dan ayat tersebut, sang peneliti muslim itu memberikan hadiah berupa mushaf Alquran dan terjemahanya kepada Profesor William, salah satu anggota tim peneliti Inggris.

Selang beberapa hari setelah peristwa itu, Profesor William berceramah di Universitas Carnegie Mellon. Ia mengatakan:

"Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi, satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Alquran. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain," demikian ungkapan William.

Seperti Apa Rupa Pohon Ghorqod Yahudi?

POHON Ghorqod memang dikenal sebagai pohonnya kaum Yahudi. Hal tersebut secara tegas dinyatakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya mengenai peperangan hari akhir yang berbunyi :

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi  bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon Ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi,” (HR. Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lulu ‘wal-Marjan III/308).

Pohon Ghorqod (Nitraria Retusa) merupakan tanaman sejenis semak berdaun kecil-kecil dan lebat, dengan ranting yang juga banyak. Ketika kecil pohon ini hanya berupa semak yang kecil, mustahil untuk dijadikan tempat bersembunyi. Namun ketika sudah besar, tanaman ini memiliki batang yang cukup kokoh untuk bisa dipanjat dan rerimbunan dedaunannya sangat lebat sehingga bisa dipakai sebagai tempat bersembunyi, walau pohon ini tidak tinggi-tinggi amat.

Zionis-Israel telah melakukan penanaman pohon Ghorqod sejak lama. Bahkan Yahudi seluruh dunia sangat dianjurkan untuk berpartisipasi secara aktif menanami pohon jenis ini di wilayah pendudukan Zionis-Israel di tanah Palestina. Website Jewish National Fund (jnf.org) dalam bagian JNF Store (Tress for Israel Certificate) di akhir tahun 2007 telah mengumumkan jika di tanah Palestina yang dikuasai Israel telah ditanami tak kurang dari 220 juta batang pohon ghorqod.

Situs tersebut juga mengiklankan bahwa siapa saja bisa untuk membeli phon ghorqod dan menyumbangkannya untuk ditanami di wilaya pendudukan. Satu batang pohon dihargai US $18, dan barang siapa membeli dua batang seharga US $36 akan diberi bonus satu batang. Sistem pembayarannya bisa lewat kartu kredit. Dan pengepakan serta pengirimannya pun bisa dipilih lewat metode apa.